Rabu, September 28, 2022

Hati-hati dengan jawaban: Nanti Nak, kamu akan tahu kalau sudah besar…

Assalamu’alaikum semoga kita dalam keadaan sehat semua dan selalu bahagia.

Sering kita sebagai orang tua kualahan dengan pertanyaan anak, terkadang susah untuk memberikan penjelasan ke anak.

Kita melontarkan jawaban sederhana sepert ini,

“nanti nak, kamu akan tahu kalau sudah besar”

Hati2 dengan jawaban seperti itu karena itu akan memberikan dampat negatif kepada anak.

Diantaranya, penasaran mereka semakin membesar yang menyebabkan mereka mencari jawaban di tempat lain yang belum tentu baik dan benar.

Mari kita tiru tentang nasihat imam abul walid al baji untuk kedua anaknya tentang membaca ilmu filsafat yang harus ditunda.

Seperti ini nasehatnya ;

Aku ingatkan kalian berdua dari membacanya (filsafat)sebelum kalian membaca penjelasan para ulama yang akan menguatkan pemahaman tentang kerusakannya, lemahnya lontaran-lontaran dan sedikitnya kebenaran. Ditakutkan ia lebih dahulu masuk ke hati kalian tanpa ada kekuatan untuk membantahnya…

Jika aku tahu kalian berdua telah mencapai derajat ilmu dan mampu membedakan, juga kekuatan menganalisa, aku akan memerintahkan kalian berdua untuk membacanya. Agar kalian berdua bisa melihat sendiri kelemahannya dan kelemahan para pengikutnya serta rapuhnya mereka yang tertipu olehnya.

Beliau memberikan alasan kepada anak kenapa harus ditunda dalam membaca buku filsafat. Penundaan itu disertai penjelasan tentang ilmu lain yang harus dibaca terlebih dahulu. Dan penjelasan awal tentang rusak ilmu tersbut. Serta kekhawatiran orang tua akan rusaknya hati dan pemahaman karena salah dalam urutan.

Mari kita belajar bagaimana kita harus menjawab pertanyaan anak . jangan hanya menunda jawaban dengan tanpa kejelasan maksud yang bisa diterima. Jadi jangan sekedar berkata: nanti kalau kamu sudah besar juga tahu sendiri.

Wallohua’lam

Semoga bermanfaat

Wassalamu’alaikum wr wb.

»»  read more

Senin, September 26, 2022

Mendidik anak jauh dari ponsel

Melihat pemandangan kali ini tak jarang kita menjumpai anak-anak bahkan balita yang asyik dengan permainan gawainya yaitu seperti ponsel atau barang elektronik lain. Pernah suatu ketika saya bersilaturrahim ke rumah kakak, berjumpa dengan anak nya yang usia enam tahun, sangat mengejutkan saat televisi dimatikan ibunya, sang anak langsung berkomentar terus saya mau apa, nonton tv dilarang, main hp dilarang.

                Sungguh mencengangkan melihat fenomena itu. Padahal dulu saat kita masih kecil tahun 90-an tidak ada ponsel biasa aja, tetep bisa main. Bahkan bisa main lari-larian, cilumpet-cilumpetan, mainan sunda mandah dan permainan lainnya. Hampir semua permainan membutuhkan banyak orang. Sehingga dulu hampir satu desa kita bisa kenal satu sama lain.

                Fenomena sekarang ternyata banyak anak yang sering beralasan bosen kalau harus mainan lari-larian atau permainan yang harus mengeluarkan tenaga fisik. Anak-anak sering bilang “ah bosen, tidak asyik”. Paling menyenangkan bisa main hape dengan nonton youtube, permainan game di hp, nonton tv. Mereka bisa asyik main ponselnya sampai berjam-jam.

                Keadaan Ini sangat saya rasakan, sekarang saya mempunyai anak di usia 5 tahun. Tak jarang melihat anak-anak komplek rumah yang asyik gerombol di depan rumah untuk main game , masing-masing pada membawa hape sendiri-sendiri. Anak saya tiap kali keluar rumah, melihat teman-teman komplek rumah, selalu protes ke bundanya, “Bunda kapan ngasih hp, seperti teman-teman”. Sering kali sang anak protes, akhirnya saya selalu mendampingi anak untuk main di luar. Tapi anak tidak suka, dia nyuruh bundanya di rumah tidak mau ditemani.  

                Sering kali saya memberikan pemahaman ke anak tentang belum waktunya anak-anak mempunyai hape. Saya menambah ilmu dengan mengikuti dan mendengarkan kajian parenting bagaimana mendidik anak.  Jalan pertama, saya membelikan buku-buku kisah islami seperti kisah ulama’ kecil, sahabat nabi waktu kecil, kisah para nabi dan buku-buku lainnya yang inspiratif. Tiap waktu, saya menyempatkan waktu untuk memberikan kisah ke anak. MasyaAllah luar biasa dengan kisah sang anak jadi punya inspiratif dalam kehidupannya. Misalnya saat bermain bersama teman-teman, dia melihat temannya makan sambil berdiri, dengan spontan sang anak menegur temannya, “teman, Rasulullah mengajari kita untuk makan sambil duduk, pakai tangan kanan, dan membaca bismillah”.

                Selain membacakan kisah, saya juga menemani anak bermain. Ini sangat penting, dengan ayah bundanya menemani bermain, sang anak merasa bahwa ayah bundanya mempunyai perhatian yang lebih, tidak cuma sibuk bekerja. Ini sangat saya rasakan, dengan kita menemani anak, seirinngnya waktu berjalan, keluar kata-kata penuh sayang kepada ayah bundanya. Tiba-tiba sang anak meluk dari belakang dan berkata, “ayah bunda, saya sangat sayang sekali sama ayah bunda karena Allah”

 

Kata-kata baik dan penuh perhatian yang keluar dari anak terkadang membuat kita sebagai orang tua terharu dan tak jarang kita meneteskan airmata. Sebagai orang tua setelah kita mendidik, jangan lupa untuk selalu mendo’akan selalu sang anak, titipkan kepada Allah agar selalu dijaga oleh Allah. Setelah kita mendidik dengan cara yang baik jangan pernah timbul rasa sombong bahwa itu didikan kita sebagai orang tua, tapi semua itu karena Allah.

Mulai saatnya kita sebagai orang tua berbenah dan belajar lagi memperoleh pendidikan untuk mendidik anak. Tidak ada kata terlambat sebagai orang tua untuk belajar, agar menghasilkan anak-anak yang kokoh untuk generasi penerus bangsa. Jangan pernah bosan untuk selalu membersamai anak untuk tumbuh. Sebagai orang tua tidak hanya menasehati tetapi harus memberikan contoh kepada anak. Misalnya saat kita makan bersama anak, jangan sampai kita cuek saat makan dengan sibuk memegang hp sendiri-sendiri tanpa ada dialog ke anak. Dengan perilaku yang langsung dilihat anak, itu sangat merekat dalam pikiran anak sehingga bisa dicontoh anak.

Memang benar mendidik anak itu tidak mudah. Dengan kesibukan ayah bunda dalam dunia kerja masih tetap harus memperhatikan anak. Jangan sampai saat kita lelah dalam bekerja, ketemu anak menjadi pelampiasan ke anak dengan marah-marah karena ributnya seorang anak berlarian kesana kemari, ramainya kondisi dengan celotehan anak-anak. Kita harus tahu bahwa anak itu amanah dari Allah. Kalau kita tidak mau menjaga amanah dari Allah dengan baik, Allah sewaktu-waktu akan mengambil dengan mudah.

Ada kisah dari kehidupan realita yang beredar di internet karena ayah bundanya sibuk, anak diserahkan kepada asisten rumah tangga. Sampai sang anak tumbuh besar, saat itu anak minta kepada bundanya untuk hadir ke tempat acara pembukaan pertama kali bengkelnya. Ternyata saat itu bundanya sibuk dan tidak datang ke acara anak. Sang anak sangat kecewa sampai akhirnya sang anak keluar bawa kendaraan dengan kebut-kebutan dan ditengah perjalanan terjadi kecelakaan, sang anak meninggal. Mendengar berita itu sang bunda langsung shock dan sangat menyesal dengan kesibukan yang dibuatnya, sampai tidak memperhatikan anak, seakan dunia seperti neraka.

Sebelum terlambat dengan kehidupan sekarang yang penuh tidak pasti, yang banyak keadaan membuat ayah bunda semua bekerja di luar rumah untuk memenuhi kehidupan. Maka jangan pernah lalai kalau kita sudah dapat amanah berupa anak. Jangan cuma anak dikasihkan ke asisten rumah tangga tanpa sentuhan ayah bundanya. Bahkan sang anak dengan usia yang masih kecil sudah difasilitasi hape untuk menyenangkan anak. Padahal apa yang dibutuhkan anak bukan itu, tapi kasih sayang orang tua dan keteladanannya.     

»»  read more